Seperti Apakah Seharusnya Pendidikan di TK ?


Materi seperti apakah yang terbaik bagi anak TK? Pertanyaan itu muncul menggelitik seiring dengan banyaknya TK yang menawarkan program ‘berbau impor’ dan ‘berlabel plus‘. Lalu saya mendapati keponakan yang masih TK kelas A mendapat buku paket Bahasa Inggris untuk TK dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang konon katanya mengadaptasi sistem pendidikan negara-negara maju. Ketika ditengok isinya, alangkah mengejutkan materi yang ada didalamnya. Ada catatan dan lembar kerja siswa, lengkap dengan banyak kosa kata dan instruksi dalam bahasa Inggris. Astaga naga benar, ketika anak belum dapat membaca dan masih belum lancar mengenali huruf dalam Bahasa Indonesia sudah diberikan hafalan, tulisan dan bacaan dalam Bahasa Inggris.

Betapa berat tuntutan yang diberikan pada anak umur 4 tahun oleh para pengambil keputusan yang membuat dan mengikuti kurikulum tersebut. Saya yakin sewaktu mereka umur 4 tahun, mereka juga bakalan nggak mampu mengikuti kurikulum seperti yang mereka buat sekarang. Jadi kalau lembar kerja itu dikerjakan dengan isian yang bener, yang mengisi pasti bukan anak tapi orang tuanya. Jadi siapa membodohi siapa?

Praktek seperti ini juga terjadi pada pemberian pekerjaan rumah pada anak TK. Kalau PR itu tujuannya agar anak punya rasa tanggung jawab atau untuk memberi masukkan agar orang tua tahu apa yang diajarkan disekolah dan dapat membimbing anak dirumah maka PR layak diberikan, Namun yang terjadi PR diberikan tanpa melihat kemampuan anak, sehingga yang mengerjakan PR lagi-lagi kalau jawaban atau hasilnya bagus pasti orang tuanya atau setidaknya dibantu orang tua. Dalam hal ini orang tua tidak dapat sepenuhnya disalahkan karena biar bagaimanapun orang tua pasti merasa takut kalau anaknya tidak naik kelas karena lalai mengerjakan tugas.

Salah satu kejadian mengherankan mengenai PR ini terjadi minggu lalu, ketika keponakan mendapat PR Bahasa Inggris. Tugas yang diperintahkan adalah menggambar empat ekor binatang kesayangan, lalu ada catatan tambahan dari guru yang menyatakan anak harus gambar sendiri tanpa dibantu orang tua. Yang jadi pertanyaan mengapa pada PR kali ini harus diberi catatan tambahan? Kalau begitu tentu guru menyadari telah terjadi praktek dimana orang tua selalu membentu bahkan mengerjakan pekerjaan anak. Kalau sudah tahu kenapa memberi tugas yang terlalu berat atau bahkan mustahil dikerjakan oleh anak seorang diri? Berulang-kali bahkan rutin pula memberi PR yang sukar dikerjakan anak. Kalau menginginkan hasil karya anak tanpa dibantu orang tua mengapa tidak memberikan saja tugasnya untuk dikerjakan disekolah?

Pengetahuan disertai pengalaman dan pemahaman yang kita miliki sekarang, kita dapatkan selama bertahun-tahun. Jadi sungguh sangat tidak adil kalau kita ‘memaksa’ anak TK yang usianya sepersekian usia kita untuk mengerti dan menguasai apa yang kita tahu saat ini, dengan memberi mereka materi sebanyak-banyaknya dan seberat-beratnya; yang kalo mau jujur baru bisa kita mengerti dan kuasai waktu kita SD, SMP atau bahkan SMA.

Memang ada begitu banyak ide atau pengetahuan yang ingin kita sampaikan atau kita bagikan pada anak-anak TK. Kita boleh saja merasa anak TK juga perlu mengetahui berbagai hal yang kita tahu. Permasalahannya adalah bagaimana cara kita menyampaikannya. Pemikiran mereka tidak sama dengan orang dewasa jadi jangan harap dengan memberi banyak catatan (tulisan) dan lembar kerja akan membuat mereka lebih pandai dan secerdas yang kita mau.

Kalau pengetahuan itu kita umpamakan seperti hidangan pada jamuan makan besar dimana makanan apapun ada terhidang, kita harus ingat bahwa kemampuan perut kita terbatas. Betapapun kita ingin melahap semuanya, tidak akan pernah dapat dilakukan bahkan bila kita punya waktu seumur hidup untuk melahap (ilmu) apa yang kita mau. Yang terjadi adalah kita menjadi selektif alias pilih-pilih mana yang mau dikonsumsi. Cicip sini cicip sana menjadi alternatif terbaik walaupun tentu saja kita dapat memilih satu atau dua hidangan dan makan sampai kenyang seperti yang dilakukan para pakar ilmu tertentu. Bagi anak TK adalah sangat sulit untuk membuat pilihan karena mereka bahkan tidak mengenali macam hidangannya dan belum pernah mencicipi sebelumnya. Jadi tugas kita adalah mengenalkan sebanyak mungkin jenis makanan yang ada dan membiarkan mereka mencicipi sedikit-sedikit. Tentu saja kita juga perlu pilih-pilih mana yang pantas untuk dicicipi anak TK.

Kalau kita umpamakan cabai itu adalah matematika, tentu kita tidak akan menyuruh anak TK untuk makan asinan cabai (matematika murni), sambel rica-rica (statistika), sambal belacan (trigonometri) atau sambal-sambal pedas lainnya. Hal tersebut dapat membuat anak yang tadinya belum kenal rasa pedas menjadi kaget, takut dan trauma akan rasa pedas. Anak dapat saja menganggap cabai sebagai momok yang menakutkan dan menghindari yang pedas-pedas untuk seumur hidupnya. Salah satu solusi mungkin dengan mengajak anak mengenali rasa pedas dengan kadar sangat rendah dan dipadukan dengan bahan makanan lain seperti misalnya pada rujak buah-buahan. Ketika anak mulain terbiasa bahkan tertarik oleh rasa pedas itu, bolehlah kadar kepedasannya dinaikkan. Bisa jadi anak itu akan menjadi pakar matematika nantinya. Jadi kalau anak TK main balok, congklak dan belanja-belanjaan atau menyanyi “Tek kotek kotek”, secara tidak langsung mereka diarahkan untuk belajar matematika; alias makan cabai yang pedasnya tidak menakutkan. Bandingkan dengan bila mereka diberi lembar kerja yang penuh angka hitungan. Jujur saja kalau itu terjadi, saya rasa gurunya pasti pusing memeriksa hitungan yang jawabannya ditulis dengan angka bengkok-bengkok yang sulit diterjemahkan macam sandi mata-mata.

Anak-anak itu daya tangkapnya seperti sponge (bukan Spongebob Iho) yang menyerap cairan (air) dengan sangat cepat. Kekeliruan kita seringkali adalah menilai terlalu tinggi (overestimate) atau bahkan terlalu rendah (underestimate) terhadap kemampuan anak dalam memahami materi yang ingin kita sampaikan. Betul mereka (sponge) amat cepat menangkap sesuatu (air) yang sesuai bagi mereka. Masalah timbul ketika cara kita menyampaikan materi tidak sesuai dengan mereka, katakanlah seperti sponge dipaksa menyerap sesuatu yang kental seperti lem; dimana hanya sebagian saja yang terserap. Sulit memang membuat apa yang ingin kita sampaikan se-encer air, kita perlu mengakui bahwa kadang kita belum mendapatkan cara membuat materi menjadi se-encer air agar mudah diserap anak. Kadang apa yang kita anggap sudah cukup cair (mudah) untuk diserap pada prakteknya tidaklah demikian. Namun bagaimanapun juga kita perlu terus mengupayakannya, karena apa yang belum dapat diserap sekarang mungkin akan dapat diserap dikemudian hari.

Membicarakan sponge, tiba-tiba terlintas pemikiran apakah kita sungguh ingin anak-anak kita menyerap semua yang kita berikan begitu saja? Seperti sponge yang menyerap air dan kalau diperas keluar kembali airnya? Bukankah itu seperti memberi mereka hafalan yang harus mereka ingat persis tanpa ada perubahan? Bukankah itu seperti mengharapkan mereka jadi seperti pita rekaman yang hanya menyimpan dan mengeluarkan apa yang kita rekam? Ataukah kita ingin agar anak-anak seperti parutan kelapa yang menyerap cukup sebagian air yang kita berikan dan kalau diperas mengeluarkan santan….sesuatu yang lain dari air yang kita berikan. Bukankah itu lebih baik? Berikan sedikit ide, lalu biarkan imajinasi mereka menjadikan ide kita suatu ide baru yang mungkin jauh lebih baik dari ide awalnya.

Menilik dari semua hal diatas maka terbersit pemikiran bahwa mungkin bukan masalah materi apa yang harus dipelajari anak TK tapi lebih ke bagaimana cara menyampaikan suatu materi pada anak TK. Bagaimana membuat sesuatu yang sulit dipahami oleh anak TK menjadi menarik dan menantang untuk dipelajari. Saya yakin bahwa bermain adalah bagian penting dari proses belajar. Bahwa melalui permainan, pengetahuan disampaikan. Bahwa membuat suasana menyenangkan adalah penting untuk memompa semangat belajar. Bahwa lewat canda dan tawa, imajinasi dan ide bergulir. Bahwa lewat sesuatu yang konyol, hal-hal penting diingat. Bahwa lewat sesuatu yang tampak tidak serius, sesuatu yang serius dimulai.  Mari kita bersenang-senang sekaligus belajar; menikmati hidangan pengetahuan yang diberikan kehidupan yang tidak akan habis kita santap sepanjang hayat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s